SURABAYA, KABAR JATIM– Di ufuk timur Pulau Jawa, ketika matahari terbit dari balik Gunung Semeru dan cahaya menyentuh Selat Madura, terhampar sebuah wilayah yang bukan sekadar provinsi administratif. Ia adalah panggung panjang peradaban: Jawa Timur.
Dengan luas 48.033 km² dan populasi mencapai sekitar 41,9 juta jiwa pada akhir 2024 (Badan Pusat Statistik/BPS Provinsi Jawa Timur), Jawa Timur menjadi provinsi terluas di Pulau Jawa sekaligus berpenduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Sekitar seperempat warganya hidup di kawasan metropolitan Surabaya—jantung urban yang berdenyut di pesisir utara. Ibu kotanya, Surabaya, telah lama menjadi simpul perdagangan dan sejarah.
Namun kisah Jawa Timur tidak dimulai dari pelabuhan modern atau kawasan industri. Ia bermula jauh lebih purba—di tanah liat, tulang-belulang, dan prasasti batu.
Jejak Purba di Tanah Wajak dan Trinil
Ribuan abad silam seperti dikutip Kabar Jatim dari Wikipedia, wilayah ini telah dihuni manusia purba. Di Desa Kepuhklagen, Gresik, ditemukan fosil Pithecanthropus mojokertensis. Di Trinil, Ngawi, dunia arkeologi dikejutkan oleh penemuan Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois pada 1891—temuan yang kemudian dikenal sebagai “Java Man” dan mengubah pemahaman dunia tentang evolusi manusia (Naturalis Biodiversity Center, Belanda).
Di Wajak, Tulungagung, ditemukan fosil Homo wajakensis, yang dianggap sebagai salah satu nenek moyang populasi Australo-Melanesia modern. Penemuan-penemuan ini menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu situs paleoantropologi terpenting di Asia Tenggara (Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional/BRIN).
Di tanah inilah, manusia belajar berdiri, berjalan, dan membangun kebudayaan.
Dinoyo dan Lahirnya Dinasti Isyana
Memasuki era klasik, suara zaman terdengar dari sebuah prasasti. Prasasti Dinoyo (760 M), ditemukan di dekat Malang, menjadi sumber tertulis tertua di Jawa Timur. Ia menandai eksistensi Kerajaan Kanjuruhan dan penggunaan aksara Kawi awal (Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur).
Pada tahun 929 M, Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, mendirikan Wangsa Isyana. Langkah strategis ini diyakini sebagai respons terhadap bencana alam dan tekanan politik di Jawa Tengah (Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan).
Dari rahim Isyana lahir kerajaan-kerajaan besar: Medang, Kahuripan, Kadiri, dan Janggala—membangun fondasi politik dan kebudayaan Jawa Timur.
Singhasari dan Ambisi Maritim Nusantara
Tahun 1222 menjadi tonggak penting. Ken Arok merebut kekuasaan dari Kadiri dan mendirikan Singhasari. Di bawah raja terakhirnya, Kertanegara, Singhasari melancarkan Ekspedisi Pamalayu (1275) ke Sumatra—sebuah visi geopolitik untuk membendung ancaman Mongol dan memperluas pengaruh maritim (George Cœdès, The Indianized States of Southeast Asia).
Singhasari menjadi jembatan menuju kejayaan yang lebih besar.
Majapahit: Imperium dari Trowulan
Tahun 1294, Raden Wijaya mendirikan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Pada masa Hayam Wuruk (1350–1389), didampingi Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai puncak kejayaan.
Kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca (1365) mencatat wilayah pengaruh Majapahit yang membentang hingga Semenanjung Malaya dan sebagian Filipina selatan. Sejarawan seperti Slamet Muljana dan Denys Lombard menyebut Majapahit sebagai salah satu kekuatan terbesar Asia Tenggara abad ke-14.
Di Trowulan hari ini, bata merah dan candi-candi sunyi menjadi saksi bisu mimpi persatuan Nusantara yang pernah diikrarkan lewat Sumpah Palapa.
Datangnya Islam: Dari Leran ke Gresik
Bukti awal Islam di Jawa Timur ditandai oleh nisan makam Fatimah binti Maimun (wafat 1102 M/495 H) di Leran, Gresik—salah satu artefak Islam tertua di Indonesia (Balai Arkeologi Yogyakarta).
Meski saat itu kerajaan Hindu-Buddha masih berkuasa, jejak Islam terus menguat melalui jaringan perdagangan. Gresik kemudian menjadi pusat dakwah penting, terutama melalui peran Sunan Gresik dan para Wali Songo pada abad ke-15.
Peralihan ini bukan sekadar perubahan agama, tetapi transformasi sosial dan budaya yang membentuk identitas Jawa Timur modern.
Kolonialisme dan Kota Pelabuhan
Abad ke-16, Portugis tiba di perairan Nusantara. Tahun 1596, armada Belanda di bawah Cornelis de Houtman mendarat di Madura. Pada 13 Mei 1677, Surabaya jatuh ke tangan VOC (Ricklefs, A History of Modern Indonesia).
Di era kolonial Inggris (1811–1816), di bawah Thomas Stamford Raffles, Jawa Timur dibagi dalam sistem karesidenan—struktur administratif yang bertahan hingga 1964.
Pelabuhan Surabaya berkembang sebagai salah satu pelabuhan terpenting Hindia Belanda, memperkuat identitasnya sebagai kota dagang dan industri.
Lahirnya Provinsi Jawa Timur
Pasca Proklamasi 1945, Indonesia terbagi menjadi delapan provinsi. Jawa Timur termasuk di antaranya. Gubernur pertamanya adalah R. Soerjo, yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Masa Revolusi membawa dinamika federalisme. Tahun 1948 dibentuk Negara Madura dan Negara Jawa Timur sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat. Namun pada 1950, keduanya melebur kembali ke dalam NKRI. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 secara resmi membentuk Provinsi Jawa Timur dalam kerangka negara kesatuan (Arsip Nasional Republik Indonesia).
Episentrum Ekonomi Timur Indonesia
Kini, Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan, dan Jawa Tengah di barat. Wilayahnya meliputi Madura, Bawean, Kepulauan Kangean, Masalembu, hingga Pulau Sempu dan Nusa Barung.
Menurut BPS dan Kementerian Keuangan RI, Jawa Timur berkontribusi sekitar 14–15% terhadap Produk Domestik Bruto nasional—menjadikannya salah satu motor utama ekonomi Indonesia. Sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan logistik menjadikan Surabaya dan kawasan Gerbangkertosusila sebagai pusat pertumbuhan kawasan timur.
Dari ladang tebu kolonial hingga kawasan industri modern, dari pelabuhan kuno hingga terminal peti kemas internasional—Jawa Timur terus bergerak.
Tanah yang Tak Pernah Selesai Berkisah
Jawa Timur adalah narasi panjang tentang migrasi, kekuasaan, perdagangan, iman, dan identitas. Ia menyimpan fosil manusia purba sekaligus pabrik otomotif modern. Ia melahirkan kerajaan besar dan menjadi saksi lahirnya republik.
Di antara bata merah Majapahit dan kilau lampu Pelabuhan Tanjung Perak, sejarah Jawa Timur bukan sekadar masa lalu—ia adalah arus yang terus mengalir, membentuk wajah Indonesia hari ini.
Dan seperti ombak di Selat Madura, kisahnya belum pernah benar-benar berhenti (Wan)

